Riwayat Hidup Jean Paul Sartre
Jean Paul Charles Aymard Leon Eugene Sartre adalah seorang filsuf
dan penulis Prancis yang lahir pada 21 Juni 1905 di Paris, Prancis dan
merupakan anak tunggal dari keluarga bourgeois yang taat beraga Katolik.
Ayahnya, Jean Baptiste Sartre dikenal sebagai prajurit militer dan
ibunya Anne Schweitzer berasal dari keluarga intelektual keturunan
Jerman-Alsatian. Sartre memiliki kakek bernama Charles Schweitzer yang
dikenal sebagai seorang guru bahasa Jerman di sekolah menengah atas dan
paman bernama Albert Schweitzer yang dikenal luas sebagai penulis
terkenal peraih penghargaan nobel.
Sejak kecil Sartre dibesarkan oleh ibunya dan Ia tidak pernah
mengenal ayahnya sebab beliau telah meninggal pada tahun 1906 akibat
demam tinggi. Sosok ayah kemudian digantikan oleh kakeknya, Charles
Schweitzer. Charles menjadi figur yang sangat penting dan berpengaruh
bagi hidup Sartre. Melalui kakeknya, Sartre telah mengenal karya-karya
sastra klasik di usia masih sangat muda bahkan sebelum memasuki usia
sekolah. Antara tahun 1907 hingga 1917, Poulou (nama panggilan kecil
Sartre) tinggal di rumah kakeknya dan melewati masa kanak-kanak yang
membahagiakan serta tumbuh sebagai anak yang cemerlang dan percaya diri .
Melalui perpustakaan pribadi keluarga Schwitzer, Sartre mengenal
berbagai karya sastra terkenal lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak
lain seusianya.
Namun masa kecil Sartre yang membahagiakan itu harus berakhir ketika
di tahun 1917, ibunya menikah lagi dengan seorang polytechnicien. Sartre
tidak pernah menyukai ayah tirinya itu. Sejak pernikahan kedua ibunya,
Sartre pindah ke La Rochelle dan tinggal di kota itu selama tiga tahun.
Baginya waktu tiga tahun tersebut menjadi masa-masa yang paling
menyedihkan dalam hidupnya karena menganggap ayah tirinya telah
mengambil perhatian ibunya yang sebelumnya hanya tertuju pada Sartre.
Pada usia 16 tahun, Sartre masuk lycée Henri IV dan kemudian bertemu
dengan Paul Nizan yang bersama-sama dengannya mempersiapkan untuk masuk
ke l’école Normale Supérieure. Nizan telah mengenalkan kepadanya karir
kepenulisan dan menjadi sahabat karib Sartre hingga kematiannya di tahun
1940. Persahabatan yang terjalin di antara keduanya memberikan pengaruh
pada perkembangan kepribadian dan pemikiran Sartre. Dalam lycée Henri
IV keduanya dikenal sebagai siswa cerdas dan kritis sehingga dengan
mudah lulus dari sekolah yang elit dan bergengsi itu. Kekompakan
keduanya kemudian dituangkan dalam karya sastra mereka yang pertama,
berupa dua petit conte yang berisi sindiran-sindiran terhadap para
professeur.
Pada tahun 1924 Sartre pun melanjutkan pendidikannya di école Normale
Superieur dan bertemu dengan Simone de Beauvoir. Ia pun tertarik pada
aspek-aspek filsafat barat yang menyerap gagasan-gagasan Immanuel Kant
dan Martin Heidegger. Sartre telah menejemahkan la Psycopathologie karya
Jaspers bersama Nizan pada tahun 1927. Kemudian berkat kecerdasannya,
pada tahun 1929 Sartre berhasil lulus ujian agrégation filsafat. Ujian
tersebut memberikan Sartre kesempatan untuk berkarir sebagai guru
filsafat di Le Havre, Lyon, dan Paris.
Sejak muda, Sartre tidak menyukai lingkungan borjuis dan segala
kebiasaannya. Perasaan tidak suka itu perlahan-lahan berubah menjadi
perasaan muak dan keinginan untuk memberontak. Perasaaan dan
keinginannya itulah yang mendasari roman-romannya. Pada tahun 1938, saat
sedang menjadi dosen muda di Lycée du Havre, Sartre menulis novel
berjudul La Nausée yang berisi ide-ide eksistensialisme dan menjadi
salah satu karya Sartre yang terkenal. Nausée bercerita tentang seorang
peneliti yang patah semangat, Roquentin, di sebuah kota yang jika
diamati memiliki kemiripan dengan Le Havre. Roquentin menyadari
seutuhnya akan fakta bahwa benda-benda mati serta situasi khayalan
merupakan dua hal yang sangat berbeda dengan eksistensi dirinya.
Sartre juga menulis novel Le Mur. Le Mur menekankan pada aspek
kesadaran di mana manusia mengenali dirinya sendiri dan absurditas dari
usaha-usaha mereka untuk menghadapi diri mereka sendiri secara rasional.
Pada tahun 1929, Sartre bergabung dalam Angkatan Bersenjata Nasional
Perancis sebagai seorang meteorologist. Ia ditangkap tentara Jerman di
Padoux dan dipenjarakan selama 9 bulan sebagai seorang tahanan perang
pada tahun 1940. Selama menjadi tahanan perang Sartre ia harus
berpindah-pindah dari Padoux, kemudian ke Nancy, dan terakhir ke
Stallag, Treves. Di kota terakhir inilah ia sempat menulis skenario
teater pertamanya Bariona, fills du tonnerre.
Sartre dibebaskan pada bulan April 1941 dengan alasan kondisi
kesehatannya yang semakin memburuk. Ia kemudian kembali mengajar di
Lycée Pasteur di dekat Paris. Sebulan kemudian di kota Paris, Sartre dan
teman-temannya : Simone de Beauvoir, Marleau-Ponty, Jean-Toussaint,
Dominique Desanti, Jean Kanapa, dan siswa-siswi Ecole Normale,
mendirikan kelompok pemberontak Socialisme et Liberte. Pada bulan
Agustus 1941, Sartre mencoba meminta dukungan Andre Malraux dan Andre
Gide terhadap gerakan pemberontakan yang didirikan Sartre dkk namun baik
Gide maupun Malraux tidak memberikan kepastian untuk mendukung gerakan
tersebut.
Sartre memimpin majalah
Les Temps Modernes antara tahun 1945 dan 1955. Ia dipandang sebagai
penseur engagé
karena ia menerbitkan karya-karya teater yang bertemakan
pemikiran-pemikiran filsafatnya. Ia memanfaatkan teater untuk
mengungkapkan gagasan-gagasannya tentang hidup yang disebut
eksistensialisme. Pemikiran Sartre itu bertplak dari pendapat:
L’Existence de l’homme exclut l’existence de Dieu
‘Eksistensi manusia meniadakan eksistensi Tuhan.’ Melalui
karya-karyanyalah Sartre mengungkapkan bahwa hidup tidak untuk
dibuktikan atau dicarikan pembenarannya, iamuncul dan tidak dapat
ditolak. Untuk meberi makna hidup, manusia hanya dapat mengandalkan diri
sendiri, tanggung jawab sendiri, dan dengan kebebasan dalam
keterlibatannya. Ia tidak dapat meminta atau mengharapkan bantuan dari
siapapun:
L’homme n’est rien d’autre que ce qu’il se fait ‘Manusia tidak lain adalah apa yang dibuatnya sendiri.’
Ketika Sartre mengerjakan Critique dan sebuah biografi analisis dari Gustave Flaubert,
L’Idiot de la famille
yang merupakan karya terakhir selama hidupnya, kondisi fisiknya. Hal
ini dikarenakan terlalu banyak bekerja dan mengkonsumsi narkoba,
amfetamin untuk merampungkan karya-karyanya tersebut. Namun kedua
karyanya tersebut tidak berhasil diselesaikan, Sartre pun kemudian
meninggal pada 15 April 1980 karena mengidap Oedema paru-paru.
1.1.2 Karya-karya Jean-Paul Sartre
- La Trencendance de l’Égo (1936)
- L’Imagination (1936)
- Esquisse d’une théorie des émotions (1939)
- Le Mur (1939)
- La Nausée (1938)
- Les Mouches (1943)
- L’Etre en le Néant (1943)
- Huis Clos (1944)
- Chemins de la Liberté
- L’Âge de Raison
- Le Sursis
- L’Existentialisme est un humanisme (pidato) (1946)
- La Putain Respectueuse
- Réflexions sur loa question juive
- Essai sur Beaudelaire (1947)
- Les Mains sales (1948)
- La Mort dans l’âme (1949)
- Le Diable et le Bon Dieu (1951)
- Saint Genet, comédien et martyr
- Nekrassov (1955)
- Les Séquestrés d’Altona
- L’Être et le Néant: Critique de la raison dialectique (1960)
- Les Mots (1964)
- L’Idiot de la Famille (1971)
1.1.3 Jean Paul Sartre dan Pemikirannya
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memfokuskan persoalan
seputar eksistensi, khususnya eksistensi manusia. Dalam hal eksistensi,
Sartre merumuskan bahwa eksistensi mendahului esensi. Teori Sartre
tersebut membalik tradisi filsafat Barat sejak masa Plato yang selalu
menyatakan bahwa esensi mendahului eksistensi.
Donny Gahral Ardian di dalam bukunya yang berjudul Percik Pemikiran
Kontemporer menjelaskan pemikiran Sartre terhadap masalah eksistensi
yang membedakannya dengan filsuf-filsuf sebelumnya. Dijelaskan bahwa
Sartre menganggap esensi manusia tidak bisa dijelaskan seperti halnya
esensi benda-benda buatan tangan manusia (manufaktur). Contohnya, ketika
seseorang melihat sebilah pisau dapur, orang tersebut langsung dapat
memahami bahwa pisau dibuat oleh seseorang yang memiliki konsep di
kepalanya tentang tujuan dan prosedur pembuatan pisau tersebut.
Filsuf-filsuf sebelum Sartre cenderung memandang manusia seperti
pisau tadi. Mereka menjelaskan manusia sebagai produk dari Pencipta Yang
Agung yaitu Tuhan. Dalam artian, sebelum manusia ada, Tuhan telah
memiliki konsep tentang tujuan penciptaan manusia. Sehingga setiap
individu menjadi bentuk realisasi konsepsi tertentu yang telah ada di
pemahaman Tuhan sebelumnya. Tuhan dan kodrat manusia adalah dua hal yang
tak terpisahkan.
Konsep pemikiran inilah yang ditentang oleh Sartre. Ia lalu mengambil
jalur ateisme. Ia mencoba meniadakan Tuhan. Menurut logikanya, “jika
Tuhan tidak ada, otomatis manusia pun bebas dari beban kodratnya, karena
tidak ada Tuhan yang terus-menerus mengawasinya”. Sartre menegaskan
bahwa sejatinya manusia pertama-tama ada dan kemudian mewujudkan
esensi/makna/kodratnya. Manusia adalah semata-mata apa yang dibentuknya
sendiri dan memiliki derajat yang lebih tinggi dari makhluk lainnya
karena tidak memiliki kodrat yang sudah ditentukan sebelumnya. Intinya,
manusia adalah makhluk yang bebas untuk mewujudkan esensinya sendiri.
Konsepsi mengenai kesadaran sangat penting dipahami terlebih dahulu
untuk memahami eksistensialisme Sartre. Kesadaran menurut Sartre adalah
kosong tanpa muatan. Pendapatnya ini juga merupakan kritik terhadap
Descartes yang membendakan kesadaran dengan menganggapnya sebagai
substansi. Kesadaran manusia bukan substansi. Ia tidak memiliki muatan
dan kepadatan seperti halnya benda-benda melainkan kosong.
Sartre mengemukakan adanya tiga sifat kesadaran. Pertama, kesadaran
bersifat spontan artinya kesadaran itu dihasilkan bukan dari ego atau
kesadaran lain atau dengan kata lain menghasilkan dirinya sendiri.
Kedua, kesadaran bersifat absolut artinya bukan objek bagi sesuatu yang
lain atau dengan kata lain kesadaran selalu ada bagi dirinya sendiri.
Ketiga, kesadaran bersifat transparan, artinya kesadaran mampu menyadari
dirinya. Hanya manusia yang memiliki kemampuan menyadari dirinya, maka
kesadaran diri adalah modus eksistensi manusia yang membedakannya dengan
modus eksistensi benda-benda.
Kesadaran membawa manusia pada dua tipe eksistensi yaitu
être en soi (ada pada dirinya) dan
être pour soi (ada bagi dirinya).
Être en soi
merupakan tipe eksistensi benda-benda yang tak berkesadaran dan padat
tanpa celah. Kepadatan benda-benda membuatnya tak mungkin “menjadi”.
“Menjadi” dalam hal ini diartikan sebagai ada yang belum mewujudkan
dirinya tetapi sekaligus lepas dari adanya sekarang. Sedang
être pour soi adalah yang berkesadaran dan kosong.
Sartre menolak konsepsi waktu yang spasial, yaitu rentetan
titik-titik dalam rentang masa. Maksudnya, titik pasti sekarang tidak
pernah dapat ditentukan. Masa lalu, saat ini, dan masa depan bukan tiga
entitas yang terpisah, melainkan saling berhubungan. Konsep Sartre
mengenai waktu pada dasarnya berhubungan dengan dua tipe eksistensi
etre-en-soi dan etre-pour-soi. Masa lalu adalah etre en soi, karena
tidak dapat diubah, sedangkan masa kini adalah etre pour soi karena
terbuka pada segala kemungkinan.
“Manusia terkutuk bebas” merupakan kalimat Sartre yang diingat hingga saat ini.
Kebebasan itu pertama dikarenakan, manusia tidak memiliki kodrat yang
ditanamkan oleh Tuhan atau dengan kata lain Sartre meniadakan Tuhan,
maka manusia bebas. Kedua, manusia adalah makhluk berkesadaran, sehingga
ia bercirikan kekosongan, berlawanan dengan kepadatan benda-benda.
Manusia tidak pernah terumuskan secara tuntas. Karena manusia selalu
berongga, maka manusia bebas. Meskipun demkian Sartre beranggapan
kebebasan bukan berarti tanpa tanggung jawab, kebebasan justru
mengindikasikan tanggung jawab.
1.2 Selayang Pandang Mengenai ‘Les Mouches’
Les Mouches merupakan karya drama Sartre yang ditulis pada tahun 1943 dan diadaptasi dari cerita mitologi Yunani.
Dilatarbelakangi oleh Agamemnon, Raja dari Argos yang terletak di
timur laut dari Péloponoèse yang memiliki seorang istri bernama
Clytemnestra dan tiga orang anak yaitu Oreste, Electre dan Ephygénie
(telah meninggal), yang sedang mengarungi laut untuk menaklukan Troie.
Kemudian angin pun tiba-tiba berhembus dengan kencang dan ahli nujum
kerajaan mengatakan bahwa hal itu merupakan kutukan dari para dewa
akibat Agamemnon telah membunuh seekor kijang betina. Agamemnon, raja
yang haus akan kekuasaan rela untuk mengorbankan anaknya, Ephygénie agar
perjalanannya menuju Troie berjalan mulus kembali. Clytemnestra sangat
terpukul dan sedih mendengar kabar tersebut dan ia pun menjadi sangat
membenci suaminya. Selama Agamemnon berada di Troie, Clytemnestra jatuh
cinta kepada Aegistheus yang nantinya akan membunuh Agamemnon
sekembalinya dari Troie. Pada nantinya Orestelah yang akan membalaskan
dendam ayahnya dengan membunuh ibunya Clytemnestra dan kekasih ibunya
Aegistheus.
1.2.1 Tokoh-tokoh dalam ‘Les Mouches’
- Jupiter
- Oreste
- Aegistheus/ Egisthe
- Le Pedagogue
- Electre
- Clytemnestre
- Les Erinyes: les mouches
1.2.2 Sinopsis ‘Les Mouches’
Babak I
Oreste, seorang pengembara, datang ke kota bersama guru pribadinya (
la pedagogue)
setelah melakukan perjalanan sebagai usaha untuk menemukan jati
dirinya. Oreste digambarkan sebagai seorang laki-laki yang tampak dewasa
meskipun wajahnya masih seperti anak kecil, polos, dan seolah-olah
belum tahu akan tanggung jawabnya. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama
Philébus ketika memasuki kota dengan tujuan menyembunyikan idenditas
dirinya. Jupiter juga melakukan hal yang sama yaitu menyamar sebagai
orang lain untuk mengikuti petualangan Oreste.
Di kota, Oreste dan gurunya menghadiri acara peringatan kematian
Agamemnon (ayah Oreste) lima belas tahun yang lalu. Tidak seorang pun
yang berbicara dan menyapa Oreste serta guru pribadinya, orang-orang
dalam peringatan tersebut benar-benar tidak mengenali Oreste. Oreste
lalu bertemu dengan kakak perempuannya yang bernama Electre yang
sepeninggal ayahnya tumbuh menjadi gadis yang penuh kebencian terhadap
ibu dan Aegistheus, ayah tirinya sekaligus pembunuh ayah kandungnya.
Babak II
Oreste memutuskan datang ke upacara kematian ayahnya dan menunjukkan
kemarahannya pada Aegistheus. Dalam rangkaian peringatan kematian
Agamemnon, terdapat satu hari di mana para pasukan kerajaan diizinkan
keluar untuk mengelilingi kota dan menyiksa orang-orang yang dianggap
bersalah. Penduduk kota tidak dapat melarikan diri dan hanya mampu
pasrah.
Electre hadir paling telat dalam upacara dansa. Ia datang dengan gaun
berwarna putih sebagai simbol masa muda dan tidak berdosa. Ia berdansa
dan bersorak-sorak serta mengolok-olok orang yang datang berkabung
sebagai simbol kebebasannya. Penduduk kota mulai percaya dan berpikir
tentang kebebasan sampai Jupiter melarang mereka melakukannya. Jupiter
juga mengahalangi niat Oreste bertarung dengan raja Aegistheus saat itu.
Oreste dan Electre kemudian sepakat untuk menyusun rencana pembunuhan
terhadap raja dan ibu mereka sendiri. Mengetahu niat tersebut, Jupiter
mendatangi Aegistheus dan membocorkan rencana pembunuhan yang telah
disusun oleh dua bersaudara Oreste dan Electre. Jupiter pun meminta
Aegistheus untuk segera mengambil tindakan.
Ketika Oreste menyerang Aegistheus, Aegistheus menolak melawan balik
serangan lawannya, maka Aegistheus akhirnya mati dan kemudian disusul
oleh kematian Clytemnestra yang dibunuh seketika setelah Oreste
menghabisi nyawa Aegistheus.
Babak III
Setelah melakukan pembunuhan, Oreste dan Electra melarikan diri ke
kuil Apollo dengan tujuan melarikan diri dari manusia dan les mouches
(yang berarti dosa yang sesungguhnya). Sementara Oreste dan Electra
bersembunyi dalam kuil, para petugas pemberi hukuman telah berjaga-jaga
menunggu mereka keluar dari kuil Apollo untuk kemudian menyerbu dan
menyiksa keduanya.
Electre mulai merasa takut dan mencoba untuk menakut-nakuti saudara
laki-lakinya. Kemudian ia pun menyatakan penyesalannya atas pembunuhan
yang telah mereka lakukan dan mengakui bahwa pembunuhan itu adalah suatu
kesalahan/dosa. Electre mengatakan bahwa ia sebenarnya hanya bermimpi
tentang pembunuhan itu sejak 15 tahun yang lalu sebagai bentuk pelarian.
Ia juga menegaskan bahwa Orestelah pembunuh sebenarnya.
Jupiter datang dan meyakinkan Oreste agar segera menebus
kejahatannya, namun tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Oreste.
Oreste merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa sehingga tidak ada yang
perlu ditebusnya. Jupiter lalu menjanjikan tahta bagi Oreste serta akan
memberikan perlindungan bagi dua bersaudara itu jika mereka bersedia
bertobat. Namun Oreste menolak tawaran Jupiter yang akan memberikan
tahta dan harta milik Aegistheus kepadanya.
2.1 Hubungan Les Mouches dengan Pemikiran Jean-Paul Sartre
Les Mouches merupakan gambaran dari penyesalan (le remords)
yang menghantui manusia setelah ia melakukan sebuah perbuatan yang
dinilai buruk berdasarkan norma moralitas yang sudah terbentuk dalam
suatu masyarakat. Dalam karya Sartre ini, penduduk kota Argos adalah
penduduk yang hidupnya tidak tenang akibat kebijakan yang dikeluarkan
oleh Aegistheus bahwa terdapat satu hari khusus dalam perayaan kematian
Agamemnon yang memperbolehkan pihak kerajaan untuk menghukum siapapun
di luar kalangan istana yang dianggap bersalah dan penduduk kota hanya
bisa pasrah menghadapi hal tersebut.
Oreste, putra Agamemnon ingin terlepas dari ketakutan yang berasal
dari luar dirinya. Perbuatan yang telah ia lakukan yaitu membunuh ibu
kandungnya Clytemnestra dan Aegistheus merupakan wujud kebebasan dirinya
dari les mouches (le remords). Dengan perbuatannya, Oreste ingin agar
penduduk kota sadar bahwa manusia ditakdirkan bebas.
Sekalipun manusia bebas, ia tetap dituntut untuk senantiasa
mempertimbangkan pilihannya. Sekali pilihan itu diaktualisasikan dalam
tindakan, tidak ada lagi jalan mundur bagi manusia. Persoalannya,
manusia tidak memiliki kriteria benar-salah, sehingga pilihan
tindakannya selalu mengandung kemungkinan salah. Hal itu membuat manusia
senantiasa cemas dan seringkali tergoda untuk menggantungkan diri pada
norma kebenaran dari luar dirinya. Padahal, kesahihan norma hanya dapat
diperoleh dari tindakan subjektif yang dialami. Perlu diketahui pula
bahwa subjektivitas sifatnya tidak tertutup, karena tindakan individual
akan melibatkan manusia secara umum.
Serba ketidakpastian itu merupakan sumber kecemasan. Hal itulah yang
sering menjerumuskan diri manusia dalam suatu kemunafikan atau mauvaise foi.
Penyesalan merupakan bentuk kemunafikan itu. Ungkapan “Maaf, saya tidak
sadar melakukannya”, atau “ Itu bukan kesalahan saya”, merupakan
ungkapan kemunafikan, karena hal itu mengandaikan adanya hakikat manusia
a priori di luar diri manusia, menggantungkan kesadaran pada sesuatu
yang abstrak di luar dirinya, sekaligus melemparkan tanggung jawab
tindakannya dengan mengingkari dirinya.
ELECTRE: Par notre père, Oreste, je t’en conjure, ne joins pas le blasphème au crime.
Tokoh Electre merupakan gambaran dari sikap kemunafikan itu. Electre
yang telah bertahun-tahun mendambakan kematian ibunya, tiba-tiba
dihadapkan pada kenyataan bahwa ibunya telah terbunuh oleh Oreste,
berkat bantuannya. Ia sangat khawatir dan kemudian takut pada dirinya
sendiri. Hal itu membuatnya mulai menyalahkan diri dan akhirnya menyerah
pada Jupiter untuk memohon bantuannya.Oreste juga merasakan kecemasan
yang sama. Namun ia sadar akan kebebasannya dan bertekad untuk tidak
pernah menyesalinya perbuatannya.
2.1.1 Ateisme dan KeTuhanan menurut Jean-Paul Sartre dalam Les Mouches
Seperti telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, Sartre mengambil
posisi ateis untuk menjelaskan gagasan eksistensinya. Posisi ateistik
menempatkan manusia sebagai satu-satunya penentu bagi kemanusiaan.
Artinya, manusia tidak memiliki acuan bagi hakikatnya sebagai manusia,
bagi Baik dan Buruk, bagi nilai-nilai moralnya. Hal ini sungguh
menyulitkan, karena dengan demikian manusia tidak memiliki ‘kompas’ dan
kerangka-kerangka acuan bagi tindakannya. Andaikata manusia menerima
Tuhan sebagai penciptanya itu berarti ia menerima bahwa hakikat
kemanusiaan berada di luar dunia, dan ia diciptakan dengan kepenuhan
finalitas tertentu dan jelas. Dengan menolak Tuhan, manusia ditempatkan
sebagai satu-satunya penentu bagi kehidupannya, dan sebagai satu-satunya
hakim bagi tindakannya.
Pemikiran Sartre ini tercermin dalam jawaban Oreste kepada Jupiter berikut ini,
ORESTE: Qu’elle s’effrite! Que les rochers me
condamnent et que les palntes se fanent sur mon passage: tout ton
univers ne suffira pas à me dinner tort. Tu es le roi des Dieux,
Jupiter, le roi des pierres et des étoiles, le roi des vagues de la mer.
Mais tu n’es pas le roi des hommes.
Jawaban Oreste tersebut memperlihatkan bahwa ia menolak penentuan
kebenaran Tuhan. Ia sendirilah yang berhak menentukan dan memberikan
kriteria benar salah bagi tindakannya. Oreste tidak menunjukan sikap
menolak secara sistematis kehadiran Tuhan. Namun yang penting, meskipun
Tuhan itu ada, hal tersebut tidak berati apa-apa bagi manusia, karena
tetap manusialah yang menentukan dirinya sendiri. Sikap Oreste
memperlihatkan suatu penolakan radikal terhadap penghakiman dirinya.
Dalam keberadaannya, hanya manusia yang berhak menghakimi dirinya
sendiri. Dalam hal ini, keberadaan manusia mengandaikan suatu
subjektivitas dan kebebasan yang inheren dengan keberadaannya dan tidak
terhindarkan.
Posisi Tuhan dalam karya Les Mouches diwakilkan oleh Jupiter yang
dimunculkan untuk menonjolkan pemikiran Sartre pada tokoh Oreste.
JUPITER: (…) je suis le Bien. Mais toi, tu as
fait le mal, et les choses t’accusent de leurs voix pétrifiées: le Bien
est partout, c’est la moelle du sureau, la fraîcheur de la source, le
grain du silex, la pesanteur de la pierre; tu le retrouveras jusque dans
la nature du feu et de la lumière, ton corps même te trahit, car il se
conforme à mes prscriptions. Le Bien est en toi, hors de toi: (…)
Berdasarkan kutipan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa Jupiter
merupakan tokoh representatif keilahian yang dimiliki Tuhan. Jupiter
memiliki otoritas yang absolut terhadap seluruh makhluk ciptaannya dan
norma-norma moralitas pun ditentukan olehnya. Nilai Baik tidak berasal
dari diri manusia tetapi merupakan Tuhan itu sendiri. Tuhan memiliki
ketentuan-ketentuan mengenai hal-hal yang dianggap baik atau buruk.
Contohnya ketika manusia melakukan tindakan kebajikan, ia tidak
melakukan perbuatan tersebut berdasarkan kesadaran dirinya sendiri
melainkan lebih kepada rasa takut terhadap hukuman dari Tuhan jika ia
tidak melakukan kebajikan.
Hubungan antara Jupiter dan Aegistheus merupakan representasi Tuhan
dan agama. Aegistheus mencerminkan agama yang merupakan alat Tuhan di
dunia untuk menciptakan sistem tata nilai baik dan buruk bagi manusia.
Dalam karya Les Mouches, Aegistheus mengeluarkan
kebijakan-kebijakan yang membuat para penduduk kota tunduk kepada
perintahnya. Sama halnya dengan agama, Aegistheus mengeluarkan tata
nilai mengenai baik dan buruk
2.1.2 Pemikiran Jean-Paul Sartre mengenai Kebebasan dan Tanggung Jawab dalam Les Mouches
Konsep kebebasan dan tanggung jawab menurut Sartre terdapat pada ucapan Oreste berikut ini,
ORESTE: Je ne suis ni le maître ni l’esclave, Jupiter. Je suis ma liberté! A peine m’as-tu as créé que j’ai cessé de t’appartenir.
Jawaban Oreste di atas memberikan kita gambaran mengenai kesadaran
Oreste terhadap konsekwensi yang harus diterima olehnya atas apa yang
telah ia perbuat. Manusia ditakdirkan untuk bebas. Namun kebebasan itu
menjadi problematik, karena manusia harus memilih dan pilihannya itu
selalu berarti keterlibatan terhadap manusia. Kebebasan tidak bermakna
tanpa keterlibatan, dan keterlibatan itu ditentukan oleh pilihan-pilihan
untuk bertindak karena manusia tidak lain dari tindakannya.
Perkataan Oreste di atas pun menyanggah pernyataan Jupiter sebelumnya
bahwa dia lah yang memberi kebebasan kepada manusia untuk melayaninya (Je t’ai donné ta liberté pour me servir).
Sedangkan menurut Oreste, kebebasan itu bukan sebuah pemberian, bukan
pula sesuatu yang berusaha dicapai, tetapi kebebasan adalah manusia.
Pada dialog yang lain Oreste menunjukkan kesadaran akan kebebasan yang merupakan dirinya
ORESTE: Hier, j’etais près d’Electre; toute ta
nature se pressait autour de moi; elle chantait ton Bien, la sirène, et
me prodiguait les conseils. (…) Mais tout à coup la liberté a fondu sur
moi et m’a transi, la nature a sauté en arrière, et je n’ai plus eu
d’âge, et je me suis senti tout seul, au milieu de ton petit monde
bénin, comme quelqu’un qui a perdu son ombre; et il n’ya plus rien eu au
ciel, ni Bien ni Mal, ni personne pour me dinner des ordres.
Berdasarkan kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa Oreste sadar
akan konsepsi kebebasan yang kemudian mengantarkannya kepada kebebasan
itu sendiri. Kata ‘hier’ menunjukkan bahwa dulu Oreste
membutuhkan Tuhan, tetapi kemudian ia sadar bahwa untuk mencapai
kebebasan ia harus menghapus keberadaan Tuhan dari hidupnya. Pilihannya
untuk menghapus keberadaan Tuhan membawa kebebasannya menemukan makna
riil, karena dengan keputusan itu ia seta merta memutuskan ikatan dengan
segala kepastian hipotetis, hakikat manusia, dan hakikat kebenaran
hipotetis di luar dirinya.